Search

Cerita Perjalanan Saya Mendokumentasikan Tarian Lariangi Kaledupa

Cerita Perjalanan Saya Mendokumentasikan Tarian Lariangi Kaledupa

Saya masih ingat betul langkah pertama saya menginjakkan kaki di Pulau Kaledupa. Angin laut membawa aroma asin yang lembut, sementara suara ombak seakan membisikkan kisah-kisah lama yang pernah hidup di pulau ini. Saya datang dengan satu tujuan: melihat langsung Tarian Lariangi dan mendokumentasikannya menjadi sebuah film dokumenter.

Sebelum hari pertunjukan, saya telah banyak membaca tentang Lariangi—tentang dua belas gadis yang menari sambil melantunkan syair kuno, tentang riasan rumit yang dibentuk dari rambut asli, dan tentang cerita kapal-kapal yang dulu memasuki Kaledupa. Namun apa yang saya temui jauh melampaui semua tulisan yang pernah saya baca.

Di sebuah rumah panggung sederhana, saya menyaksikan para penari bersiap sejak pagi. Mereka duduk rapi, wajah-wajah muda yang serius namun penuh semangat. Di tangan para perias, rambut mereka dibentuk pelan-pelan menjadi segitiga khas Lariangi. Tidak ada hiasan tempelan, tidak ada rambut palsu—semuanya dari rambut mereka sendiri. Gerakan tangan para perias begitu teliti, seperti sedang merangkai sejarah.

Saya menyalakan kamera. Bunyi beep kecil itu seolah menjadi tanda dimulainya perjalanan saya sebagai perekam tradisi.

Ketika malam tiba, panggung sederhana di halaman desa sudah diterangi lampu kuning yang temaram. Masyarakat mulai berdatangan, duduk di kursi-kursi plastik sambil berbincang pelan. Di momen ini, saya merasa bukan hanya sekadar pembuat film; saya adalah saksi hidup dari sebuah tradisi tua yang masih bernafas.

Lalu musik dimulai.

Dentang gong pertama membuat bulu kuduk saya meremang. Para penari muncul satu per satu, bergerak pelan, menjaga formasi yang diwariskan turun-temurun. Kipasan mereka halus, tatapannya teduh, langkahnya terukur. Ketika mereka mulai melantunkan syair, saya tiba-tiba merasa seperti sedang ditarik ke masa lalu—ke masa kapal-kapal Buton yang datang ke Kaledupa, ke masa raja-raja, ke masa di mana setiap tarian adalah persembahan sakral.

Saya memotret, merekam, bergerak mengikuti cahaya dan bayangan. Dalam lensa kamera saya, setiap gerakan terlihat seperti lukisan yang bergerak. Saya mendekat, menangkap detail manik-manik, bentuk sanggul, getaran suara. Saya mundur, menangkap keseluruhan formasi yang serasi. Di sela-sela itu, saya terpikir: betapa berharganya tradisi ini, dan betapa pentingnya untuk disimpan, diarsipkan, dikenalkan kembali.

Lagu “Iya Malahu” mengisahkan kapal-kapal yang dahulu datang. Lalu “Ritanjo” memuji Pulau Hoga dan mengajak untuk menjaga laut, terumbu karang, serta alam yang menjadi identitas Wakatobi. Syair mereka bukan hanya kata-kata, tetapi pesan turun-temurun untuk generasi selanjutnya.

Ketika tarian berakhir, masyarakat bertepuk tangan. Namun bagi saya, sesuatu masih terus bergerak—getaran magis yang membuat saya sadar bahwa film dokumenter yang sedang saya buat bukan sekadar proyek visual. Ini adalah upaya mengabadikan identitas sebuah bangsa kecil di kepulauan timur Nusantara.

Di akhir malam, saya duduk di pinggir pantai Kaledupa, memutar ulang beberapa cuplikan yang baru saya rekam. Suara angin dan debur ombak menyatu dengan lantunan Lariangi yang tadi saya dengar. Rasanya seolah pulau ini sendiri sedang berbisik pada saya:

“Rekam kami. Ceritakan kami. Jangan biarkan suara kami hilang.”

Dan di situlah saya berjanji pada diri sendiri: film dokumenter ini bukan hanya tentang tarian, tetapi tentang warisan, tentang ingatan kolektif, dan tentang bagaimana saya menjadi bagian kecil dari upaya menjaga budaya yang tidak boleh dilupakan.

Nonton Hasil Video Dokumenternya 

Jurnal Liputan Video

Jurnal Liputan Video

Media Dokumentasi Berbasis Video dalam Merekam Realitas Sosial

LiputanVideo.com merupakan platform dokumentasi digital yang menyajikan liputan berbasis video sebagai sarana utama dalam merekam dan menyampaikan realitas sosial. Konten yang dihadirkan mencakup dokumentasi peristiwa, aktivitas masyarakat, serta dinamika sosial di berbagai daerah.

Dalam setiap liputan, LiputanVideo.com mengedepankan prinsip objektivitas, akurasi, dan keberimbangan informasi. Video liputan dilengkapi dengan narasi dan data pendukung guna memberikan gambaran peristiwa yang faktual, jelas, dan mudah dipahami oleh publik.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda dan menyimpan preferensi. Dengan melanjutkan, Anda menyetujui kebijakan kami Cookie Policy